Follow by Email

Jumat, 29 April 2011

Sejarah Perlawanan Bangsa Indonesia Terhadap Dominasi Asing

1)  Perlawanan Sebelum Tahun 1800

Sultan Baab Ullah menentang Portugis (Ternate) Bangkitnya Rakyat Ternate dibawah pimpinan Sultan Baab Ullah menentang portugis, disebabkan karena tingkatan bangsa Portugis yang sudah melampaui batas. Terlebih lagi setelah “kaki tangan” bangsa Portugis menikam Sultan Hairun hingga tewas, ketika memasuki benteng untuk merayakan perjanjian perdamaian yang di sepakatinya. Dengan tewasnya Sultan Hairun maka sejak tahun 1570 rakyat ternate menghalangi aktivitas bangsa  Portugis yang dijalankan dalam benteng. Kehidupan bangsa Portugis didalam benteng mengalami kemunduran dan bahkan terjadi kesulitan-kesulitan.
Hingga pada tahun 1575 Sultan Baab Ullah menawarkan agar Portugis menyerah dan dijamin keselamatannya untuk meninggalkan Ternate. Sultan Baab Ullah memerintahkan menyiapkan perahu-perahu dan perlengkapan untuk bangsa Portugis meninggalkan ternate menuju Ambon. di Ambon bangsa Portugis mendirikan benteng, namun pada tahun 1605 , Ambon direbut VOC. Portugis tergusur dan menetap di pulau timor bagian Timur sampai tahun 1976.

Dipati Unus Menyerang Portugis di Malaka, Malaka jatuh ketangan Portugis pada tahun 1511. Akibatnya, aktivitas perdagangan para pedagang Islam di Selat Malaka terhenti dan para pedangang Islam mencari jalan sendiri untuk menjalin hubungan dengan pedagang-pedagang islam di sebelah Barat Indonesia. Di samping itu, kedudukan kerajaan-kerajaan islam di Indonesia merasa terancam oleh pengaruh Portugis. Oleh karena itu, mereka ingin mengusir Portugis dari Malaka.
  Serangan kerajaan Demak ke Malaka dipimpin oleh Dipati Unus (Putra Raden Patah) merupakan bukti kecemasan terhadap Portugis. Armada Demak bersama-sama Armada Aceh, Palembang, dan Bintan berusaha merebut Kota Malaka.

Panglima Fatahillah menduduki Jawa Barat, perkembangan demak sebagai Kerajaan Islam di Jawa menyebabkan munculnya rasa khawatir bagi Raja Pajajaran (Hindu). Rasa takut dan khawatir itulah yang menyebabkan Kerajaan Pajajaran menjalin hubungan dengan bangsa Portugis di Malaka. Sedangkan Kerajaan Demak berusaha untuk menggagalkan hubungan itu. Kerajaan Demak mengirim pasukannya ke Jawa Barat dibawah pimpinan Fatahillah. Ia berhasil menduduki Cirebon, Sunda Kelapa, dan Banten yang merupakan pelabuhan-pelabuhan penting bagi Kerajaan Pajajaran.
             
Sulatan Iskandar Muda menyerang Portugis, sebelum Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, wilayah bagian Utara Sumatera menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Malaka. Tetapi ketika Malaka dikuasai Portugis, di Sumatera bagian Utara berdiri Kerajaan Aceh dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kedudukan Portugis di Malaka merupakan saingan bagi kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, terutama Kerajaan Aceh yang kekuasaannnya dekat dengan Malaka. Kerajaan Malaka merasa khawatir terhadap aktivitas dan kegiatan-kegiatan Portugis di Malaka. Oleh karena itu, kerajaan Aceh dibawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda mengirim pasukan untuk menyerang Portugis di Malaka, namun serangan itu mengalami kegagalan.

Sultan Agung Menyerang Belanda di Batavia, Sultan Agung, Raja terbesar dari Kerajaan Mataram, mempunyai cita-cita untuk menjadikan Pulau Jawa sebagai daerah kekuasaan yang berundang-undang dibawah panji Kerajaan Mataram. Untuk mencapai cita-citanya itu, Sultan Agung harus dapat mengusir VOC dari Batavia. Serangan pertama mengalami kegagalan, karena pasukan, logistik(bahan makan) dan persiapan Kerajaan Mataram masih belum begitu lengkap.
Serangan yang kedua terjadi tahun 1629. Kerajaan Mataram telah mempersiapkan pasukan perangnya dan mendirikan lumbung-lumbung padi di sepanjang jalan yang dilalui oleh pasukan Kerajaan Mataram. Pendirian lumbung-lumbung padi sebagai tempat persediaan bahan makanan diketahui oleh pihak VOC, maka lumbung-lumbung padi itu dibakar oleh ”kaki tangan”VOC. Sehingga Kerajaan Mataram pun menjadi kegagalan pula.

Sultan Ageng Tirtayasa menentang Belanda, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat Puteranya yang bergelar Sultan Haji mempunyai sifat yang berlainan dalam memandang kongsi  sedangkan Sultan Haji lemah dan bersahabat dengan VOC. Maka ketika Sultan Haji memerintah di Banten, antara Banten dan VOC terjadi hubungan pedagang. Namun demikian Sultan Ageng Tirtayasa menentang hubungan itu dengan menurunkan Sultan Haji dari tahtanya.

Sultan Hasanuddin menentang belanda, Makassar terletak tidak jauh dari jalan perdagangan antara Maluku dengan daerah yang ada di wilayah Indonesia bagian Barat, sehingga Makassar menjadi bandar pelabuhan yang sangat ramai pada saat itu. Dengan perantaraan para pedagang Islam, daerah Sulawesi Selatan telah memeluk agama Islam.
Untuk memperkuat kekuasaan dagangnya, Sultan Hasanuddin menduduki Sumbawa, sehingga jalur pelayaran perdagangan dapat dikuasainya. Penguasaan yang dilakukan oleh Sultan Hasanuddin itu dianggap sebagai perintang oleh belanda dalam aktivitas perdagangannya.
Belanda meminta bantuan pada Raja Bone yaitu Aru Palaka. Dengan bantuannya, Makassar jatuh ke tangan Belanda dan Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667).

2)  Perlawanan Sesudah Tahun 1800

A.Perlawanan Rakyat Maluku

Keberhasilan VOC menanamkan kekuasaanya didaerah maluku menyebabkan rempah-rempah sebagai hasil utama monopoli oleh kompeni belanda. Rempah-rempah harus dijual ke VOC. Harga ditentukan pihak VOC. Pengawasan terhadap penduduk diperketat dan tidak jarang menggunakan kekerasan. Karena tindakan-tindakan yang dilakukan VOC itu menyebabkan kesengsaraan, penderitaan dan kelaparan. beban hidup yang cukup berat itu menimbulkan pemberontakan dikalangan rakyat.

Perlawanan-perlawanan yang di lakukan oleh rakyat di daerah maluku ini mendapat dukungan dari beberapa kalangan diantaranya:


1). Perlawanan Sultan Nuku (Tidore)  (1797-1885)

Sebagai seorang sultan di Kerajaan Tidore, Sultan Nuku berusaha meringankan beban rakyat dari penindasan pihak kolonial Belanda. Untuk itu Sultan Nuku bertekad mengangkat senjata bersama rakyat untuk menyerang Belanda. Dalam usaha Sultan Nuku berhasil membina angkatan armada perang yang terdiri 200 buah kapal perang dan 6000 orang pasukan. Perjuangan ditempuh oleh Nuku melalui senjata maupun politik diplomasi.
Siasatnya mengadu domba Inggris dengan Belanda, sehingga membuat Sultan Nuku berhasil membebaskan kota Soa Siu dari kekuasaan Belanda (20 Juni 1801). Selanjutnya Maluku Utara berhasil dipersatukan di bawah kekuasaan Sultan Nuku (Tidore).

2). Perlawanan KapitanPattimura (1817)

Perlawanan yang dilakukan Thomas Matulesi (lebih dikenal dengan Kapitan Pattimura) diawali dengan penyerbuan terhadap benteng Belanda yang bernama Benteng Duurstede di Saparua. Dengan kegigihan rakyat maluku di bawah pimpinan Kapitan Pattimura, akhirnya Benteng Duurstede berhasil direbut. Residen Belanda terbunuh dalam peristiwa itu. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram dan tempat-tempat lainnya. Belanda semakin terdesak. Akhirnya Belanda mengerahakan segenap kekuataannya untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku.
Tetapi pertempuran di pihak rakyat Maluku berkurang akibat tertangkapnya Kapitan Pattimura berserta kawannya dalam pertempuran. Pada tanggal 16 Desember 1817. Kapitan Pattimura beserta kawan seperjuangan dihukum mati di tiang gantungan.


B. Perang Padri

1)   Sebab – sebab Perang Padri
Menurut ajaran Islam, masalah kekerabatan yang berhubungan dengan warisan sebenarnya harus bersifat patrilinear, sedangkan yang berlaku di Minangkabau adalah Matrilinear (warisan adat lama dan yang menerima warisan itu kaum ibu). Selain itu,  masyarakat harus hidup sederhana dan menjauhkan diri dari segala kesenangan duniawi yang berlebihan, seperti berpakaian yang indah-indah dan sebagainya.
Ketika pada tahun 1821, pertentangan antara orang-orang Padri dengan Raja makin meruncing. Kaum Padri yang tidak berhasil menyelesaikan pertikaian dengan jalan damai, akhirnya mengambil jalan kekerasan.

2)   Jalannya Perang Padri
Menurut cerita rakyat setempat, Raja diundang oleh Tuanku Pasaman ke Kota Tengah untuk diajak berunding. Tuanku Pasaman adalah seorang tokoh Kaum Padri yang beralian radikal. Pada waktu itu raja beserta para petinggi kerajaan datang untuk memenuhi undangan tersebut. Dalam perundingan terjadi kegagalan untuk mencapai kata sepakat, sehingga Tuanku Pasaman mengambil tekat untuk memusnahkan Raja beserta pengikutnya
Tuanku Pasaman menuduh bahwa raja sudah melanggar ajaran Islam karena itu seluruh yang hadir di bunuh oleh Kaum Padri.

3)   Periode Pertama(1821-1825)
Pada periode ini belanda mengirim tentaranya dari batavia kebawah pimpinan Letkol Raaf. Serangan Belanda tersebut berhasil merebut Batu Sangkar (dekat Pagarruyung) dan langsung mendirikan benteng yang bernama benteng Fort Van Der Capellen (Gubernur Jendral di Indonesia pada saat itu.

4)   Periode ke Dua (1825-1830)
Kedua belah pihak berusaha untuk menjaga diri sebaik-baiknya dan selalu siap apabila suatu saat terjaadi peperangan yang tidak di harapkan. Walaupun isi Perjanjian Masang sekurang-kurangnya merupakan suatu jaminan untuk tidak mengadakan peperangan dalam waktu yang singkat tetapi suasana tetap tegang (semacam perang dingin).
 
5)   Periode ketiga (1830-1837)
Setelah tahun 1830 atau setelah Perang Diponegoro usai, keadaan di Sumatera Barat sangat berubah, yaitu terjadi pertempuran-pertempuran yang tidak dapat dihindari lagi. Naskah perjanjian masang dirobek-robek oleh Belanda. Belanda menuduh Kaum Padri tidak setia terhadap Perjanjian Masang.

6)   Akhir Perang Padri
Kekuatan Belanda sudah berada di Sumatera Barat untuk menundukkan Kaum Padri. Kota Bonjol dikuasai untuk pertama kalinya oleh Belanda. Hal ini bukan berarti Kaum Padri sudah menyerah.
Namun pada tahun 1831, terjadi persatuan Kaum Adat dengan Kaum Padri pada tahun 1833 serentak mengadakan serangan umum terhadap Kota Bonjol, sehingga membuat pasukan Belanda kalang kabut. Letnan kolonel Elout sebagai pemimpin pasukan Belanda pada saat itu mengambil suatu kebijaksanaan bahwa prajurit-prajurit Sentot beragama Islam dan sama dengan agama yang dianut oleh rakyat di Sumatera Barat.
Tetapi kenyataannya berbeda, Sentot yang ditugaskan untuk menarik simpati rakyat malah mengadakan hubungan dengan Kaum Padri. Gerak-gerik Sentot dapat dibaca oleh Belanda, kemudian Sentot dipanggil ke Batavia untuk ditahan dan diasingkan ke Bengkulu hingga wafat disana pada tahun 1855.
Pada tahun 1834 Belanda dibawah pimpinan Cochius dan Michaels berhasil menduduki basis kekuatan kaum Padri di Kota Bonjol. Belanda mengajak berunding, tetapi Imam Bonjol tertipu oleh Belanda dan ditangkap. Selanjutnya, ia di bawa ke Batavia dan kemudian ke Minahasa sampai meninggal pada tahun 1864, dan berakhirnya Perang Padri, seluruh wilayah Sumatra Barat jatuh ke tangan Belanda.


C.Perang Diponegoro

Sejak kedatangan belanda di Jawa Tengah, Kerajaan Mataram mengalami kemerosotan. Wilayah kerajaan makin sempit karena banyak daerah diambil oleh Belanda sebagai imbalan atas bantuannya.

1)   Latar Belakang Perang Diponegoro
Ada beberapa hal yang menyebabkan Pangeran Diponegoro turun tangan dan memimpin perlawanan terhadap belanda.
# Sebab-sebab umum
  • Kekuasaan Raja Mataram semakin kecil dan kewibawaannya mulai merosot. Bersamaan dengan itu  terjadi pemecahan wilayahnya menjadi empat kerajaan kecil, yaitu Surakarta, Ngayogyakarta, Mangkunegara dan Paku Alaman.
  • Kaum bangsawan merasa di kurangi penghasilannya, karena daerah-daerah yang dulu dibagi-bagikan kepada para bangsawan, kini ambil oleh pemerintah belanda. Pemerintah Belanda akan mengeluarkan maklumat yang isinya akan mengusahakan perekonomian sendiri, tanah milik kaum partikelir (swasta) harus dikembalikan kepada pemerintah belanda. Sudah tentu tindakan ini menimbulkan kegelisahan diantara para bangsawan, karena harus mengembalikan uang persekot yang telah mereka terima.
  • Rakyat yang mempunyai beban seperti kerja rodi, pajak tanah dan sebagainya merasa tertindas. Begitu pula karena pemungutan beberapa pajak yang diborong oleh orang-orang tionghoa dengan sifat memeras dan memperberat beban rakyat.

# Sebab-sebab khusus
Sebab-sebab khusus terjadinya Perang Diponegoro adalah pembuatan jalan yang melalui makam leluhur pangeran dipenogoro di tegal rejo. Patih Danurejo IV (seorang ”kaki tangan” balanda) memerintahkan untuk memasang patok-patok di jalur itu.
Keadaan seperti ini berlangsung berkali-kali, sehingga akhirnya pato-patok itu dipasang kembali oleh Pangeran Diponegoro dengan tombak. peperangan tidak dapat dielakan lagi dan pasti akan terjadi, tetapi Belanda berusaha mengatasi kemelut antara kedua bangsawan tersebut dan mengharapkan tidak terjadi peperangan.

2)   Jalannya Perang Diponegoro
Serangan itu merupakan awal mulanya Perang Diponegoro, Pangeran Diponegoro bersama dengan Pangeran Mangkubumi berhasil meloloskan diri keluar kota dan memusatkan pasukannya diSelarong. Kemudian Pangeran Diponegoro menggempur kota Ngayogyakarta, sehingga Sultan Hamengkubuwono V yang masih kanak-kanak di bawa ke benteng Belanda.
Pada tahun 1826 terjadi pertempuran dingalengkong. Pasukan Diponegoro mengalami kemenangan gemilang yang mengharumkan nama Pangeran Diponegoro. Rakyat menobatkan Pangeran Diponegoro sebagai sultan dengan gelar sultan Abdul Hamid Herutjokro Amirulmukminin Saidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa. Penobatan ini berlangsung didaerah Dekso.
Pangeran Diponegoro mengobarkan perang gerilya karena ia mengetahui dengan pasti kekuatan pasukannya yang jauh di bawah kekuatan Belanda. Dalam perselisihan itu Pangeran Diponegoro berpendapat bahwa masalah pemerintahan dan keagamaan harus dipegang oleh satu kanan, karena dua unsur itu dianggap saling membantu, sedangkan menurut Kiai Mojo kedua masalah itu harus di pegang secara terpisah. Tampaknya perselisihan itu juga menentang siasat perang, karena menolak usul perang terbuka dari Kiai Mojo.
Tahun 1829 merupakan saat yang sangat krisis bagi Pangeran Diponegoro. Satu persatu pengikutnya mulai meninggalkan dan memisahkan diri. Setelah Kiai Mojo memisahkan diri dari kelompok Pangeran Diponegoro, juga Sentot Ali Basa Prawiradja yang menginginkan perang terbuka dan menolak siasat perang gerilya.
Sentot Ali Basa Prawiradja akhirnya menyerah kepada Belanda. dengan terpenuhinya syarat-syarat itu maka pada tanggal 20 oktober 1829 sentot menyerah kepada Belanda di yogyakarta. kedatangan sentot bersama pasukannya disambut oleh Belanda dengan suatu upacara militer. Sentot diangkat oleh Belanda dengan pangkat letnan kolonel yang langsung berada dibawah pimpinan jendral De Kock.

3)   AkhirPerang Diponegoro
Kolonel Cleerens berhasil mengadakan perundingan pendahuluan sekitar bulan Februari 1830. Dalam perundingan itu Pangeran Diponegoro mengajukan tuntutan yaitu Pangeran Diponegoro menginginkan sebuah negara merdeka dibawah seorang sultan dan juga ingin menjadi Amirulmukminin di seluruh tanah jawa serta sebagai kepala negara bagi masyarakat islam.
Tuntutan itu tak dipenuhi oleh Belanda sehingga terjadi tawar menawar pun terjadi. Hasil perundingan itu sudah tidak ada harapan lagi. Melihat keteguhan hati Pangeran Diponegoro akhirnya kekebalan diplomatik yang dimiliki Pangeran Diponegoro disingkirkan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan di Batavia, kemudian di manado. Selanjutnya Pangeran Diponegoro di tawan di makassar (benteng Rotterdam). Pangeran Diponegoro meninggal di makassar pada tanggal 8 januari 1855.
Dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro, maka berakhirlah Perang Diponegoro dengan Belanda. Belanda mengakui bahwa Perang Diponegoro merupakan perang yang paling hebat, karena pihak belanda banyak mengeluarkan biaya.


D. Perang Aceh

Sejak sepeninggalan Suktan Iskandar Muda, keadaan Kerajaan semakin suram. Kerajaan Aceh yang masa jaya pada masa Sultan Iskandar Muda akhirnya terpecah belah menjadi kerajaan-kerjaan kecil yang berkuasa dan berdaulat. Sultan Aceh hanya berkuasa di daerah Kutaraja dan sekitarnya saja. Sultan hanyalah merupakan lambang persatuan Aceh namun demikian Sultan berkuasa penuh atas hubungan dengan negara asing. Bangsa Belanda maupun Inggris mengakui kedudukan Aceh berdasarkan Treaty of London (1824).

1)   Sebab-sebab Perang Aceh
Kedudukan Aceh dalm politik Internasonal, akibatnya putra-putri Aceh dapat berdagang secara leluasa dengan bangsa manapun juga. Belanda pun juga mendapat keuntungan dari hal tersebut dengan menggeledah dan menangkap para pelaut Aceh, sebagai balasannya rakyat Aceh mengadakan sergapan-sergapan terhadap kapal-kapal Belanda.
Peperangan diantara kedua belah pihak tak dapat dielakkan. Hingga pad tahun 1850, Belanda melakukan perundingan dengan Aceh untuk menghentikan permusuhan dan Aceh bersedia menepati janji.
Keadaan aman dan damai akibat perundingan tersebut digoncangkan lagi oleh Belanda. Pada tahun 1858, Belanda mengadakan perjanjian dengan Raja Siak. Dalam perjanjian ini Raja Siak dipaksa menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda, yaitu daerah taklukkan Kerjaan Siak Deli Serdang, Asahan, dan Langkat. Sesungguhnya daerah-daerah itu adalah wilayah kekuasaan Raja Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda. Belanda telah melanggar kedaulatan Aceh dengan membuat perjanjian sepihak dengan Siak. Belanda sudah tidak menepati janji, dan Inggris mengakui bahwa Belanda yang besalah atas semua ini.
Dalam rangka memperkuat kedudukannya, Aceh mengadakan hubungan dengan kesultanan Turki. Kendati kemudian, hubungan yang dijalin Aceh dan Turki pada tahun 1868 mengguncangkan pemerintahan Belanda. Terlebih lagi dengan terbukanya Teruzan Suez tahun 1869, kedudukan Aceh sangatlah penting, baik dari strategi peperangan maupun dari dunia perdagangan yang dekat dengan Selat Malaka. Oleh karena itu, Inggris dan Belanda takut kalau Aceh diduduki oleh salah satu bangsa Barat lainnya.
Namun setelah terbukti, bahwa Aceh mengadakan hubungan dengan Konsul Italia dan Amerika, maka Inggris dan Belanda mengadakan perjanjian tahun1872 yang dikenal dengan Traktak Sumatra, dimana Inggris memberikan kelonggaran kepada Belanda untuk bertindak terhadap Aceh dan sebaliknya Inggris boleh secara leluasa berdagang di Siak.

2)   Jalannya Perang Aceh
Pada tahun 1873, pasukan Belanda yang pertama dengan kekuatan 3800 orang dapat dibinasakan oleh pasukan rakyat Aceh. Jenderal Kohler yang memimpin pasukan tersebut dapat dibunuh.
Kemudian menyusul pasukan Belanda dengan kekuatan 8000 orang dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten. Pasukan ini berhasil merebut Kotaraja. Setelah istana jatuh ke tangan Belanda, tetapi Sultan Aceh wafat. Dan walaupun istana dapat diambil kembali, namun semangat rakyat Aceh dibawah pimpinan Panglima Polim tetap tegar menentang kedatangan Belanda.
Perang yang terjadi semakin hebat, semangat rakyat Aceh berkobar sampai ke sumsum tulang mereka, hingga para pemimpin agama Aceh menyerukan Perang Jihad fi Sabilillah (Perang Suci di Jalan Alloh).
Seorang panglima bernama Teuku Umar, dengan siasat perang, Teuku Umar menyerah pada belanda pada tahun 1893 dengan tujuan hanya untuk mendapatkan perlengkapan persenjataan. Setelah mendapatkan perlengkapan persenjataan dia meninggalkan Belanda dan bersatu dengan pejuang rakyat, sehingga serangan pejuang Aceh kepada Belanda semakin berbahaya.
Banyak perlawanan yang terjadi di Aceh, salah satunya Teungku Cik Di Tiro. Mereka menentang Belanda, karena Belanda menyebarkan agama Kristen di Aceh. Belanda yang sudah kewalahan menghadapi serangan-serangan Aceh, akhirnya mengirim Dr. Snouck Hurgronje untuk menyelidiki tata Negara Aceh. Dari penyildikan itu yang ditulis dengan judul De Atjehers atau The Acehnese dapat diketahui kelemahan dan kunci rahasia, dibalik ketangguhan rakyat Aceh.

3)   Akhir Perang Aceh
Berdasarkan pengalaman Snouck Hurgronje, pada tahun 1899, Belanda mengirim Jenderal Van Heutsz untuk menyerang ke Aceh Besar, Pidie, dan Samalanga. Serangan tersebut dikenal dengan Serangan Saputra dari pasukan Marchausse, orang-orang Indonesia yang dilatih oleh Belanda. Akhirnya mereka berhasil mematahkan semangat para pejuang Aceh.
Dalam waktu singkat Belanda berhasil menguasai Aceh. Kemudian Belanda membuat Perjanjian Pendek, diman kerjaan kecil terikat oleh perjanjian ini. Dan mengikat kepala-kepala daerah dengan tersebut, membuat belanda berkuasa penuh atas Aceh.
Banyak putra-putri Aceh berkorban dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia

E. Perang Bali

Pada abad ke-19, Belanda mulai mencurahkan perhatiannya se Pulau Bali. Dorongannya adalah untuk menguasai seluruh wilayah Indonesia. Sebelum abad ke-19, Pulau Bali telah dikuasai kerajaan-kerajaan kecil yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Klungkung.
Menurut perjanjian antara kerajaan Klungkung dengan Belanda tahun 1841, Kerajaan Klungkung yang saat itu dikuasai oleh Raja Dewa Agung Putra, dinyatakan sebagai kupernement dari Hindia Belanda (suatu daerah yang bebas dari pengaeruh kekuasaaan Belanda). Tapi ada hak-hak Kearajaan Bali yang mudah dilanggar, yaitu Hak Tawan Karang.. Hak tersebut adalah kerajaan berhak merampas dan menyita barang-barang serta kapal-kapal yang terdampar di Pulau Bali.
Pada tahun 1844, pertama-tama Belanda memanfaatkan hak tersebut dengan sengaja membiarkan kerjaan Buleleng menawangkarangi sebuah kapal di Prancak (daerah Jembara) yang saat itu berada dibawah kekuasaan Kerajaan Buleleng. Peristiwa inilah yang dijadikan dalil oleh Belanda untuk menyerang Pulau Bali pada tahun 1848. Karena Belanda menganggap bahwa kerajaan Buleleng adalah kerajaan terkuat. Dengan datangnya Belanda ke Bali maka pertempuran tidak dapat dihindari. Pertempuran pertama mengalami kegagalan dipihak Belanda, namun pada pertempuran kedua, yang terjadi pada tahun 1849, belanda berhasil merebut benteng terakhir Kerajaan Buleleng di Jagaraga. Pasukan Belanda saat itu dipimpin oleh Jenderal Mayor A. V Michiels dan Van Swieten sebagai wakilnya. Akan tetapi Raja serta patihnya berhasil melarikan diri ke Karangasem. Pertempuran itu dinamakan Puputan Jagaraga.
Setelah Buleleng dapat ditaklukkan, Belanda terus menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Bali. Akibatnya suasana kehidupan masyarakat terus diikuti dengan “Perang Puputan”, seperti perang-perang yang terjadi dikerajaan-kerajaan kecil di Pulau Bali.

Ø   Perang Puputan Badung (1906), di perang ini Belanda memakai cara yang sama seperti yang dilakukan Belanda kepada Kerajaan Buleleng, tetapi Raja Badung (Ida Cokorde Ngurah Gede Pamecutan). Raja telah mengetahui atas sikap penolakan Belanda yang meminta ganti rugi atas kapalnya, tetapi mereka bersiap unruk melawan Belanda. Pada tahun 1906, Belanda mendarat di Pantai Sanur terus menuju ke pusat Kerajaan Badung. Pertempuran tejadi secara unik yaitu anak, wanita, laki-laki berpakaian serba putih (Puputan) dengan membawa keris atau tombak menyerbu Belanda tanpa rasa takut dan akhirnya semuanya gugur.
Ø   Perang Puputan Kusumba (1908), pihak Belanda yang saat itu dipimpin oleh Miclhels mendapat luka-luka oleh tembakan-tembakan dari Pasukan Klungkung. Namun dalam perang berikutnya, Kusumba sebagai benteng pertahanan Klungkung di daerah selatan, akhirnya dikuasai oleh Belanda.

Setelah Kerajaan Badung dapat ditundukkan, Belanda juga menaklukkan Kerajaaan Tabanan tahun 1906. Namun disini, Belanda mendapat perlawanan hebat dari Kerajaan Tabanan, tetapi akhirnya dapat ditaklukkan juga oleh Belanda.
Pada tahun 1908, Kerajaan Klungkung mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Sehingga pecah perang puputan, dimana Raja beserta keluargan dan kerabat kerajaan gugur dalam mempertahankan wilayah kerajaan.


F. Perang Bone

Sejak Perjanjian Bongaya tahun 1667, Belanda mulai menguasai wilayah Sulawesi Selatan, terutama di daerah Makassar. Pada tahun 1824, Gubernur Jenderal Van der Capellen berangkat ke Makassar untuk memperbarui Perjanjian Bongaya yang telah ditetapkan pada tahun 1667. Menurut Belanda, Perjanjian Bongaya tidak sesuai dengan system imperialismenya. Akan tetapi Kerajaan Bone menentang keputusan itu. Akibatnya terjadilah perang dan akhirnya Ibukota Bone telah jatuh ke tangan Belanda.
Tetapi Raja Putri memberikan perlawanan yang sengit dan menimbulkan korban banyak dipihak Belanda, tetapi setelah Raja Putri meninggal pada tahun 1835, perlawanan rakyat Bone melemah.
Pada tahun 1845, perang meletus lagi hingga pada tahun 1860 Bone dapat dikalahkan. Jatuhnya Kerajaan Bone yang terkuat di Sulawesi Selatan, menyebabkan Belanda dapat menguasai seluruh kerajaan-kerajaan kecil di daerah itu, Perlawanan terahkir dari Kerajaan Bone, yaitu pada tahun 1908 dan sejak itu Bone berada dibawah kekuasaan Belanda.


G. Perang Banjarmasin

1)      Sebab-sebab Perang Banjarmasin
Pada masa pemerintahan Sultan Adam, Belanda mulai masuk ke wilayah Banjarmasin. Bahkan Sultan Adam sendiri secara resmi menyatakan hubungan antara Kerajaan Banjarmasin dengan belanda tahun 1826. Namun pada tahun 1850, muncul benih-benih permusuhan antara pihak keratin. Belanda juga ikut ambil bagian didalam menentukan politik kerajaan dengan mengadu domba oknum-oknum keluarga sultan sendiri.

2)   Jalannya Perang Banjarmasin
Ketika Sultan Adam meninggal dunia pada tahun 1857, terjadi perebutan kekuasaan keraton. Belanda yang berdiri di belakang kekacauan ini mengangkat Tamjid Illah sebagai sultan atas Kerajaan Banjarmasin. Namun Tamjid Illah sangat dibenci oleh semua kelompok dan rakyat. Prabu Anom yang merupakan saingannya diasingkan oleh Belanda ke Jawa. Sehingga tinggal Pangeran Hidayatullah yang merupakan saingan berat Tamjid Illah.
Ditengah-tengah kekacauan inilah meletusnya Perang Banjarmasin (1859) dengan Pangeran Antasari sebagai penggeraknya. Pangeran Antasari adalah putra Sultan Muhammad yang anti kepada Belanda.
Dalam perang ini, Belanda memaksa untuk menurunkan Tamjid Illah sebagai sultan dan mengangkat Pangeran Hidayatullah. Tetapi usulan itu ditolak, maka ahkirnya Belanda menjadikan seluruh daerah Banjarmasin sebagai daerah kekuasaannya (1860).
Pangeran Hidayatullah memihak kepada Pangeran Antasari. Namun pada tahun 1862, Pangeran Hidayatullah ditawan dan dan dibuang ke Cianjur oleh Belanda. Walaupun begitu, perang terus berlanjut oleh Pangeran Antasari yang kemudian diangkat oleh rakyat menjadi sultan.

3)   Akhir Perang Banjarmasin
Beberapa saat kemudian, dalam Perang Banjarmasin, Pangeran Antasari mengalami luka-luka dan meninggal pada tahun 1862. Perlawanan tetap berlangsung di bawah pimpinan putra-putra Antasari sampai akhirnya tidak ada lagi berita tentang perang itu


H. Perlawanan Rakyat Batak

1)      Sebab-sebab Terjadinya Perang Batak
Kerajaan Batak terletak diwilayah Tapanuli. Raja terakhir bernama Raja Sisingamangaraja XII (1875-1907). Pusat kedudukan dan pemerintahan Kerajaan Batak terletak di Bakkara (sebelah barat daya danau toba).
Alasan masyarakat melawan Belanda, ada 2 yaitu :

o       Pertama, Raja Sisingamangaraja XII tidak terima daerah kekuasaannya di perkecil oleh Belanda, yang menguasai Tapanuli Selatan;
o       Kedua, Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica.

2)   Jalannya Perang Batak
Untuk mewujudkan Pax Netherlandica, Belanda menguasai Tapanuli Utara atas kekuasaan pada Tapanuli Selatan, dan Sumatera Barat. Belanda menyebarkan ajaran Kristen dan tergabung dalam Rhijinsnhezending. Yang dilindungi dengan oleh Belanda.
Menghadapi perluasan wilayah yang dilakukan Belanda, maka pada tahun 1878 Raja Sisingamangaraja XII menyerang kedudukan Belanda didaerah Tpanuli Utara. Pada tahun 1894, Belanda mengerahkan kekuatan untuk menguasai Bakkara sebagai pusat kekuasaan Ssingamangaraja XII. Pertempuran sengit terjadi di daerah Pakpak Dairi, sebelah barat danau toba. Pasukan Van Daalen yang beroperasi di Aceh Tengah melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara (1904), sedangkan di Medan didatangkan pasukan lain melalui Kabanjahe dan Sidikalang.

3)   Akhir Perang Batak
Pasukan Marsose di bawah pimpinan Kapten Christoffle berhasil menangkap keluarga Sisingamangaraja XII. Sementara itu, Sisngamangaraja dan pengikutnya melarikan diri ke hutan Simsin. Bujukan menyerah ditolak dan dalam pertempuran itu, Sisingamangaraja XII gugur bersama putrinya yang bernama Lapian dan dua orang putranya Patuan Negari dan Patuan Anggi serta sejumlah pengikutnya (17 Juni 1907). Jenazah Sisingamangaraja XII dibawa ke Tarutung dan dimakamkan didepan Tangsi Militer Belanda. Tahun 1953 dipindahkan ke Soposurung di Balige.



I. Perlawanan-perlawanan Rakyat di Daerah Lainnya

Sejak tahun 1870 timbul perkembangan-perkembangan baru di Indonesia. Dengan pelaksanaan kebebasan berusaha atau swatanisasi (liberalisme dalam usaha) dan akibat dari pembukaan Teruzan Suez (1869) maka hubungan antara Eropa dan Asia dapat diperpendek. Kesemuannya ini mendorong pihak Belanda untuk segera menyelasaikan perang kolonial, dan pembuatan daerah jajahan Indonesia. Karena kalau tidak kerajaan-kerajaan yang belum dikuasai Belanda akan dikuasai oleh bangsa Eropa.
Sekitar tahun 1900 golongan feodal (Raja dan Bangsawan) sudah tak lagi berdaya atas daerahnya, sepenuhnya dikuasai Belanda. Walaupun demikian, selau ada perlawanan rakyat yang bersifat lokal, tetapi semuanya tidak arti ditangan Belanda, karena daerah Indonesa dulu belum memiliki persatuan dan kesatuan, hanya melindungi daerah masing-masing.
                                                                                                     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar